Cara Orang Turki Menghusir Hantu

Cara Orang Turki Menghusir Hantu - Ternyata tidak hanya di Indonesia. di Turki pun suasa mistis di masyarakat juga sangat kental. yang menarik mereka punya cara unik mengusir hantu. Di Turki, ke mana pun memandang, Anda akan menjumpai banyak mata menatap. Bukan mata manusia, namun, hiasan berbentuk mata berwarna biru. Namanya, ‘blue eyes’ atau Nazar Boncugu.

Benda tersebut diyakini sebagai jimat, untuk melindungi pemakainya. “Ini untuk mengusir roh jahat,” ujar Dewat, salah seorang penjual saat menawarkan ‘blue eyes’ kepada wartawan VIVAnews dan rombongan wisatawan asal Indonesia di kawasan Taksim, Istanbul, Turki. Blue eyes yang ia tawarkan berupa gantungan kunci.



‘Blue eyes’ juga dijual dalam bentuk magnet kulkas, kalung, cincin, gelang, bahkan hiasan dinding. “Jadi kalau ini dipasang, maka kekuatan jahat akan pergi,” ujarnya. “Juga bisa ditaruh di dalam mobil agar mobil kita terhindar dari kecelakaan.”

Menurutnya, warna-warna yang terdapat dalam jimat itu memiliki arti tersendiri. “Biru tua untuk mengusir hal jahat dan warna putih untuk membawa keberuntungan bagi kita semua,” ujarnya.

‘Blue eyes’ ini memikat sejumlah wisatawan. Selain bentuknya yang ‘aneh’ juga warnanya yang menarik. Selain itu harga yang ditawarkan cukup murah, berkisar antara 2 lira untuk gantungan kunci hingga 50 lira untuk bandul kalung.
Dari pantauan, memang Blue Eyes ini menjadi ciri khas tersendiri bagi Turki. ‘Blue Eyes’ banyak terlihat digantung di kaca spion mobil hingga pintu masuk rumah warga. Bahkan jadi alternatif suvenir bagi para turis.

Entah benar atau tidak benda tersebut dapat mengusir roh jahat. Itulah kepercayaan orang Turki.(Wisata Turki)

Grand Bazaar, Pasar Tertua di Turki

Grand Bazaar, Pasar Tertua di Turki -  Grand Bazaar Istanbul merupakan pasar tertua di dunia. Meski begitu, pasar ini selalu ramai dikunjungi turis.

Pasar di ibu kota Turki ini dibangun pada tahun 1461 atas perintah Sultan Mehmed II yang tersohor karena menaklukan Kekaisaran Romawi Timur. Kini, kehadiran pasar tradisional Grand Bazaar mewarnai jantung kota tua di Turki.

Bahkan, Grand Bazaar semakin populer di kalangan turis asing, sehingga menjadi salah satu simbol Istanbul. Pasar tradisional tertutup ini hampir setiap harinya dikunjungi 250 ribu sampai 400 ribu pengunjung yang sebagian besarnya adalah turis asing.



Di sini, turis bisa menjumpai lebih dari 3.000 toko dengan bangunan berbentuk labirin. Selain itu, kita bisa menyusuri jalan-jalan kecil di pasar ini untuk menonton seniman beraksi.

Puas menikmati hiburan dari para seniman, kita mengunjungi toko-toko di pasar seluas 31 ribu meter persegi ini. Di pasar yang menyerupai labirin raksasa ini, turis bisa membeli semua jenis perhiasan, kain, dan barang-barang antik.

Namun, turis juga dapat menemukan hal lain di pasar tradisional ini, seperti air mancur, dua masjid, kantor polisi, beberapa kafe dan restoran.

Selain itu, keramahan orang-orang Turki juga membuat suasana semakin hangat di tengah-tengah transaksi jual-beli barang dagangan.

Sementara, jika ingin mengunjungi Grand Bazaar, sebaiknya pilih waktu yang tepat. Selain Minggu, Grand Bazaar buka setiap hari dari pukul 09.00-19.00 waktu setempat.

Selain itu, Grand Bazaar juga tutup pada hari libur nasional atau keagamaan di Turki. (Wisata Turki)

Cappadocia, Kota yang Romantis di Turki

Cappadocia, Kota yang Romantis di Turki - Alarm bunyi, langit tampak mulai cerah, matahari masih belum muncul, mata masih ngantuk dan terdengar suara seperti gas terbakar diatas tenda saya menginap. Ternyata telah banyak balon udara lepas landas. Pagi ini 14 derajat selsius dan saya harus segera menuju tanah lapang, mengejar sunrise sambil melihat pemandangan bukit batu dan puluhan balon di udara, ya saya sudah di Cappadocia Turki, negara ke-8 Wheel Story season 3.


Memang cukup berat waktu meninggalkan Iran, diperbatasan sampai polisi menyalami saya dan ucapkan 'good bye' serasa saya akan benar-benar tak akan ke Iran lagi, padahal negara itu sangat Indah dan bersahabat. Kami sudah janji akan datang ketika winter agar bisa bermain salju lembut di Tachol Tehran.

Dan saya pun memacu motor ketika paspor dan Carnet di cap selepas masuk turki, sebelah kanan tampak gunung menjulang tinggi dan tunggu dulu!! masih ada salju diatas gunung padahal masih musim panas, gunung itu bernama Ararat.

35 KM dari border kami singgah di Dogubayazit, kota pertama yang kami jumpa. hari sudah sore, kami pun ketemu hotel yang cocok dengan kantong petualang. Tengah malam terdengar suara gemuruh Helikopter terbang rendah mengelilingi kota, memang sore hari sebelumnya sudah terlihat helikopter militer berpatroli.


Tak apa, namun kok pagi hari kemudian kota mendadak sepi, hampir semua toko tutup, ada apa ya! saya pun tak tau karena masyarakat susah ngomong bahasa Inggris.

Lanjut ke arah barat, pemandangan yang selalu berubah-ubah, mulai perbukitan gersang, perkebunan, pedesaan, kota hingga bukit dengan pepohonan hijau. Kami berhenti disebuah tempat yang bisa kamping setelah menempuh sekitar 550 Km.

Pada jarak 35 kilo meter dari border kami singgah di Dogubayazit, kota pertama yang kami jumpai.
Dan hari berikutnya kami ngegas lagi hingga menemukan tempat yang luar biasa indahnya, Cappadocia! daerah ini merupakan tujuan wisata populer, karena mempunyai banyak tempat dengan ciri geologi, sejarah dan budaya unik.

Mulai sunrise hingga sunset benar-benar sangat romantis.(Wisata Turki)

Ada Restoran Indonesia di Turki

Ada Restoran Indonesia di Turki - Turki adalah salah satu destinasi wisata favorit wisatawan dunia termasuk para pelancong asal Indonesia. Keindahan arsitektur serta keunikan budaya Negeri Sufi itu menjadi daya pikat tersendiri hingga membuat banyak orang Indonesia kagum dan ingin datang ke sana.

Namun satu hal yang kerap menjadi kendala bagi orang Indonesia saat berwisata ke Turki adalah soal makanan. Kebanyakan kuliner Turki tak cocok dengan lidah orang Indonesia. Karena itu, tak jarang wisatawan Indonesia yang ada di sana berburu restoran yang menyediakan menu-menu nusantara.

Nah kamu yang ingin berwisata ke Turki tak perlu khawatir lagi akan kesulitan mencari penganan Indonesia. Karena sekarang ada Warung Nusantara. Warung Nusantara adalah restoran Indonesia pertama di kota Istanbul, Turki.


Warung Nusantara dibuka oleh seorang WNI asal Gorontalo yang bersuamikan orang Turki. Berada di sebuah ruko 4 lantai, sang pemilik menyewa dua lantai untuk Warung Nusantara dengan beberapa orang WNI sebagai pekerjanya.

Dari luar, restoran ini tampak menarik dengan warna khas Indonesia merah-putih dan foto-foto tempat wisata di Tanah Air. Tak sekadar menjadi tempat makan, restoran ini rupanya dijadikan sang pemilik sebagai sarana promosi pariwisata dan kuliner khas Indonesia.

Baca Juga :


Di tempat ini, kamu bisa menjumpai beragam kuliner nusantara seperti bakso, mie instan, ikan goreng, bahkan rendang. Selain turis, kebanyakan pengunjungnya adalah mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Turki. Mereka menggunakan lantai 1 dan 2 restoran ini sebagai ajang kumpul bareng dan temu kangen antarsesama mahasiswa Indonesia.

Kamu yang berencana berwisata ke Turki dalam waktu dekat, jangan sampai melewatkan untuk berkunjung ke Warung Nusantara. Restoran ini buka setiap hari dari pukul 11.30 hingga 21.30 waktu setempat.(Wisata Turki)

Nama Bayi Perempuan Turki dan Artinya

Nama Bayi Perempuan Turki dan Artinya - Nama Bayi Perempuan Turki dan artinya. Jika anda adalah orang tua yang sedang menunggu kehadiran calon buah hati dan sedang mempersiapkan sebuah nama yang unik namun modern, nama bayi perempuan bahasa turki berikut ini bisa menjadi alternatif pilihan untuk menjadi salah satu kata dalam nama lengkap bayi perempuan anda nantinya.

Tentunya dalam memilih nama bayi untuk anak perempuan itu banyak faktor yang menjadi pertimbangannya, salah satunya adalah arti nama indah dan feminim serta pelafalan nama yang enak didengar. Silahkan disimak daftar nama bayi perempuan turki kali ini, semoga bisa menjadi sumber inspirasi dan referensi dalam menentukan nama bayi terbaik untuk buah hati tercinta.



Nama Bayi Perempuan Turki dan artinya.

Jika anda adalah orang tua yang sedang menunggu kehadiran calon buah hati dan sedang mempersiapkan sebuah nama yang unik namun modern, nama bayi perempuan bahasa turki berikut ini bisa menjadi alternatif pilihan untuk menjadi salah satu kata dalam nama lengkap bayi perempuan anda nantinya.

Tentunya dalam memilih nama bayi untuk anak perempuan itu banyak faktor yang menjadi pertimbangannya, salah satunya adalah arti nama indah dan feminim serta pelafalan nama yang enak didengar. Silahkan disimak daftar nama bayi perempuan turki kali ini, semoga bisa menjadi sumber inspirasi dan referensi dalam menentukan nama bayi terbaik untuk buah hati tercinta.


Daftar nama bayi perempuan bahasa turki

——

Akasma = Pendakian mawar putih

Cari = Mengalir seperti air

Karli = Tertutup salju

Nuray = Terang bulan

Elif Kayla Perk = KDI

Aga = Pedang

Almas = Berlian

Almasd = Berlian

Ata = Kembar

Atta = Kembar (bentuk lain dari Ata)

Aygul = Mawar yang seperti bulan

Ayla = Pohon ek

Aysegül = Berbunga

Aysel = Seperti bulan

Aysel = Seperti bulan

Aysila = Seperti bulan

Ayºe = Berbunga

Bahar = Mata air kehidupan

Baharah = Musim semi, mata air

Baharak = Musim semi, mata air

Burçak = Benih

Canan = Dicintai

Canan = Dicintai

Ceren = Rusa

Dicle = Sungai

Dilara = Cinta

Ebru = Seni

Ece = Ratu

Efrina = Alam semesta

Ekin = Panen

Elif = Ramping dan tinggi

Elma = Buah Yang Manis

Emel = Hasrat, keinginan

Gona = Pipi

Gül = Mawar

Hanifah = Kuat

Hanife = kuat

Hannyfa = Kuat (bentuk lain dari Hanife)

Harika = dicintai

Hirka = Dicintai

Ilke = obor, penerang kehidupan

Irem = taman di surga

Kara = teman

Lale = Bunga Tulip

Müge = Bunga Lili

Münevver = Terbuka

Naylan = Keinginan yang terpenuhi

Naylan = Keinginan yang terpenuhi (Bentuk lain dari Neylan)

Nergis = bunga narsis

Özge = Berbeda

Özlem = Lama dinantikan

Rafat = kebesaran, kemasyuran

Ryhan = Bunga yang aromanya wangi

Sarila = Air Terjun

Sevde = Cinta

Sevgi = Cinta

Sevim = Dicintai

Suzan = Bunga Lili

Tugba = menyenangkan

Yagmur = Hujan

Demikian artikel kali ini, jangan lupa juga untuk melihat kumpulan nama bayi perempuan sansekerta yang bisa juga menjadi alternatif lainnya untuk memilih nama bagi bayi perempuan kesayangan.
Daftar nama bayi perempuan bahasa turki

——

Akasma = Pendakian mawar putih

Cari = Mengalir seperti air

Karli = Tertutup salju

Nuray = Terang bulan

Elif Kayla Perk = KDI

Aga = Pedang

Almas = Berlian

Almasd = Berlian

Ata = Kembar

Atta = Kembar (bentuk lain dari Ata)

Aygul = Mawar yang seperti bulan

Ayla = Pohon ek

Aysegül = Berbunga

Aysel = Seperti bulan

Aysel = Seperti bulan

Aysila = Seperti bulan

Ayºe = Berbunga

Bahar = Mata air kehidupan

Baharah = Musim semi, mata air

Baharak = Musim semi, mata air

Burçak = Benih

Canan = Dicintai

Canan = Dicintai

Ceren = Rusa

Dicle = Sungai

Dilara = Cinta

Ebru = Seni

Ece = Ratu

Efrina = Alam semesta

Ekin = Panen

Elif = Ramping dan tinggi

Elma = Buah Yang Manis

Emel = Hasrat, keinginan

Gona = Pipi

Gül = Mawar

Hanifah = Kuat

Hanife = kuat

Hannyfa = Kuat (bentuk lain dari Hanife)

Harika = dicintai

Hirka = Dicintai

Ilke = obor, penerang kehidupan

Irem = taman di surga

Kara = teman

Lale = Bunga Tulip

Müge = Bunga Lili

Münevver = Terbuka

Naylan = Keinginan yang terpenuhi

Naylan = Keinginan yang terpenuhi (Bentuk lain dari Neylan)

Nergis = bunga narsis

Özge = Berbeda

Özlem = Lama dinantikan

Rafat = kebesaran, kemasyuran

Ryhan = Bunga yang aromanya wangi

Sarila = Air Terjun

Sevde = Cinta

Sevgi = Cinta

Sevim = Dicintai

Suzan = Bunga Lili

Tugba = menyenangkan

Yagmur = Huja

Demikian artikel kali ini, jangan lupa juga untuk melihat kumpulan nama bayi perempuan sansekerta yang bisa juga menjadi alternatif lainnya untuk memilih nama bagi bayi perempuan kesayangan.(Wisata Turki)

Nikmati Mandi Hamam Nan Unik di Antalya,Turki

Nikmati Mandi Hamam Nan Unik di Antalya,Turki - Antalya adalah kota yang kecil dan bersih seperti Singapore. Tidak ada tidak ada sampah yang menumpuk.Kota ini dibagi dua yaitu kota tua dan kota baru. Kota tua terdiri dari bangunan Ottoman. Rumah model Ottoman ini sudah direnovasi tapi tidak meninggalkan bentuk asalnya.


Mandi ala Turki

Kebanyakan, mereka menjual cinderamata dan karpet karena jalan jalan kecil dibagian kota tua ini banyak dikunjungi turis menuju pelabuhan tua di Antalya. Di pelabuhan tua, banyak masyarakat yang memiliki perahu bermotor dan menawarkan jasanya untuk mengelilingi pulau pulau karang disekitar pegunungan Taurus.



Tapi, jika ingin santai, kita bisa kongkow-kongkow di restoran ikan sekitar pelabuhan. Sekali makan untuk 2 orang, termasuk red wine, kira kira 22 lira Turki atau 12 Euro. Selesai makan, anda selalu ditawari teh Turki atau kopi gratis.Namun, saya anjurkan lebih baik minum kopi karena teh Turki ini pekat sekali. Ditambah 4 sendok teh gula saja, masih sangat  pahit.

Sementara di kota baru, bentuk bangunan lebih modern dan banyak pertokoan, tapi hampir tidak ada mall. So, kalau mau shopping bukan disini. Untuk istirahat Antalya kota adalah kota yang menarik. Di sepanjang kota dan disetiap sudut terdapat taman kota yang indah dan terawat dengan baik. Setiap taman menghadap ke laut dan ke pegunungan Taurus.

Menariknya, masyarakat disini, termasuk anak muda atau yang masih kecil sangat disiplin dalam menjaga kebersihan kotanya. Contohnya, anak anak sekolah yang duduk duduk di taman selalu membuang kaleng minuman ataupun kantong plastik ditempat sampah. Kadang saya sebagai orang Bandung bertanya dalam hati, kapan ya Bandung bisa bersih seperti ini dan tidak ada gunungan sampah.

Baca Juga :

Untuk makanan, harganya juga cukup murah. Tetapi sayang, tidak ada variasinya. Makanan utama mereka kebab ayam atau kambing yang disantap dengan roti tanpa ragi dan diberi potongan wortel segar, kol merah segar, bawang merah dan sla. Lalu diberi citroen (jeruk asam) untuk penyegar. Sedangkan untuk nasi, karena dimasak dengan minyak samin, jadi terlalu berminyak. Bosan dengan menu yang sama, kita bisa pergi makan ke restaurant China. Bayangan anda, pastilah ini restoran yang rasanya standar rasa masakan China.

Anda bisa memesan bebek panggang dan bakmi goreng. dan anda pasti mendapatkan rasa lain dari masakan China pada umumnya. Karena orang China disini juga memasak dengan  menggunakan minyak. Jadi, bakmi gorengpun dimasak dengan minyak samin. Setelah makan malam biasanya orang orang kembali duduk duduk di taman sambil menikmati teh Turki. Lucunya di mana pun anda duduk, baik di taman, di stasiun bus atau di pinggir jalan sekalipun, selalu ada orang yang berjualan teh  dengan harga yang sangat murah.

Anda juga bisa mendapatkan pengalaman yang tidak dapat dilupakan yaitu mandi Hamam. Disetiap sudut kota, tersedia tempat mandi umum yang namanya Hamam. dengan membayar 4 lira anda sekeluarga bisa menikmati mandi hamam ini. Ditempat ini disediakan ruangan untuk laki dan perempuan. Setelah membuka pakaian, kita akan diberi handuk besar dan lebar.

Hanya diselubungi handuk, anda masuk ke satu ruangan yang tidak ada airnya tapi dipenuhi oleh uap panas. Dalam 3 menit keringat anda keluar semua seperti di sauna. Setelah selesai, kita harus pergi ke ruangan basah untuk mandi tidur, yakni, tidur dibangku dari batu tanpa uap. Setelah itu akan datang orang yang membawa semacam sabut kelapa tapi halus sekali dan badan anda digosok oleh orang tersebut dan dipijat dengan minyak olijf (dibuat dari buah kecil kecil warna hijau dan bisa dimakan) selama 15 menit.

Sstt…jangan berpikir macam-macam lho..Di ruang mandi tersebut anda dipijat bersama sama orang lain, kira kira ada 10 orang dalam kamar mandi Hamam itu. Setelah itu saya harus mandi dengan air panas dan diberi sabun yang juga dibuat oleh minyak olijf. Masyarakat Turki ramah dan sopan. Jadi, tidak usah takut karena tidak ada copet disini. Kalau ada yang berani mencopet, apalagi mencopet turis,akan dihukum berat.

Untuk angkutan kota, mirip dengan angkutan kota di Bandung tetapi lebih sopan di jalan raya. Mereka juga tidak berhenti sembarangan. Dengan membayar 1 lira,  anda dibawa putar putar kota Antalya sampai bosan. Setelah 3 hari dikota tersebut kami dengan menyewa mobil tanpa supir pergi keluar kota yaitu ke Pamukkale, Perge, Aspendos dan ke kota sejarah, Myra. dan Well.  (Wisata Turki)

Tips Hemat Belanja Oleh-oleh di Turki

Tips Hemat Belanja Oleh-oleh di Turki - Kalau bepergian ke luar negeri, yang ada di pikiran Anda, terutama perempuan adalah lokasi belanja yang murah dan unik. Selain tempat pariwisata bersejarahnya, Turki juga menawarkan tempat-tempat belanja yang biasanya dikunjungi turis.

Namun, tak semua tempat itu menawarkan barang-barang yang harganya ramah di kantong. Ada beberapa tips yang dapat digunakan, agar dapat menghemat pengeluaran shopping kita di negeri kebab itu.

Di Istanbul, ibu kota Turki, juga menawarkan banyak tempat shopping, namun ada satu tempat shopping yang menurut Awan Yulianto, penulis buku Wisata Hemat Turki: Istanbul dan Cappadocia, dapat dijadikan referensi agar kita dapat menghemat pengeluaran belanja kita.

"Untuk di Istanbul, sudah pasti wajib mengunjungi Grand Bazaar (Kapali Carsi)," kata Awan kepada CNN Indonesia, Kamis (17/9).

Grand Bazaar ini merupakan salah satu pasar tertutup yang terbesar dan tertua di dunia. Dahulu pasar ini diprakarsai oleh Sultan Mehmed II, dimulai antara tahun 1456 hingga 1451. Pasar ini memiliki luas 54 ribu meter persegi, dan menjadi rumah bagi lebih dari 4.40 toko yang tersebar di 64 jalan.

Katanya, pasar itu dikunjungi oleh 250.000 orang per harinya.



Di pasar itu, Anda bisa menemukan berbagai barang, dari cinderamata, aksesoris, jam tangan, tas, koper, perhiasan emas, furnitur, barang antik dan tentunya karpet. Selain itu, harga barang di pasar ini tergolong murah dan dapat ditawar.

Selain Grand Bazaar, Awan menyarankan untuk mengunjungi Arasta Bazaar (Arasta Carsi). Terletak di satu lorong are belakang Sutanahmet Square dan Blue Mosque, dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan menarik karena dibangun oleh para pejabat Ottoman pada abad ke-17 silam.



Arasta Bazaar yang bersejarah ini juga menjadi favorit wisatawan, karena suasananya lebih tenang dan barang yang dijual menarik. Beberapa di antaranya adalah keramik Turki, berbagai jenis karpet, cinderamata, pakaian dan perhiasan. Terdapat juga kafe di mana Anda bisa bersantai setelah belanjau atau wisata.

"Kalau mau lebih murah lagi, coba pergi ke lokasi yang bukan merupakan daerah turis," paparnya.

Daerah yang dimaksud Awan ini antara lain daerah stasiun kereta Sirkeci, atau di jalan-jalan kecil yang menuju Galata Tower di daerah Beyoglu.

Tawar-menawar juga menjadi hal yang lazim dilakukan di sana. Biasanya pedagang akan memberikan 'harga turis.' Oleh karenanya Anda tak perlu ragu untuk mengajukan penawaran. Di toko- toko kecil pun juga berlaku tawar-menawar. Meski sudah ada harga pastinya, namun Anda masih mungkin dapat diskon ketika membeli dalam jumlah yang banyak.

Jika Anda mencari oleh-oleh, harga souvenir di Turki juga terbilang murah. Kita bisa mendapatkan magnet kulkas, gantungan kunci atau dompet kain dengan harga 1-5 lira.

Untuk Anda yang ingin melihat dan mencoba sisi modern Istanbul dengan pusat perbelanjaannya yang megah, Anda bisa pergi ke daerah Nistansi, Etilier dan Levent. Anda dapat meraih tempat-tempat itu dengan naik metro jalur M2 dari Taksim.(Wisata Turki)

Kota Unik Goreme, Turki

Kota Unik Goreme, Turki  - Kota Goreme sangat unik. Kota ini terletak di lembah di daerah Cappadocia. Di sini, terdapat banyak sekali bukit yang terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun yang lalu.



Di bukit-bukit ini, terdapat gua-gua yang dulunya dijadikan tempat tinggal dan gereja. Dulunya, daerah ini merupakan tempat persembunyian umat Kristen dari kejaran tentara Romawi. Mereka bersembunyi di gua-gua batu. Kini, beberapa gua itu sudah dijadikan hotel. Di dalamnya, terdapat kamar-kamar mungil. Para wisatawan dapat menginap dengan nyaman di sini. Gua-gua yang dulunya gereja, juga masih terawat dengan baik.



Evil Eye 
Tak jauh dari Kota Goreme, ada lembah bernama Pigeon Valley (Lembah Merpati). Di tempat ini, ada sebatang pohon yang dipenuhi hiasan-hiasan bulat berwarna biru. Hiasan-hiasan ini disebut evil eye (mata setan.) Sebagian masyarakat Turki percaya, bahwa evil eye adalah jimat yang bisa menjauhkan mereka dari hal-hal yang jahat.



Kita bisa melihat evil eye di hampir setiap rumah, toko, restoran, kendaraan, bahkan di pesawat udara Turki. Ukurannya pun bermacam-macam. Ada yang besar sebagai hiasan dinding, ada pula yang mungil sekali sebagai mata cincin.



(Wisata Turki)

Naik Balon Udara di Cappadocia, Turki

Naik Balon Udara di Cappadocia, Turki -  Terbang naik balon udara bisa menjadi aktivitas liburan menyenangkan di Cappadocia, Turki. Selama terbang, traveler bisa melihat indahnya Cappadocia yang unik sambil menikmati udara segar yang berhembus di sana.


Dari awal kami sudah diinformasikan mengenai kunjungan wisata Cappadocia, Turki. Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah naik balon udara. Dari beragam informasi yang kami dapatkan, harga untuk naik balon udara sekitar USD 200-250 (Rp 2,8-3,5 juta) per orang.

Tentu saja cukup mahal karena faktor keamanan dan keselamatan penumpang adalah nomor satu. Tidak sembarang orang boleh menerbangkan balon udara, sang pilot harus mempunyai sertifikat dengan jam terbang yang memenuhi syarat internasional.


Setibanya di Cappadocia, pemandu tur kami memberikan informasi bahwa harga untuk naik balon udara yaitu USD 220 (Rp 3,1 juta) per orang dan sudah diberikan hargadiskon karena grup. Besok paginya, pukul 04.30 kami sudah dibangunkan oleh pihak hotel. Udara dingin yang menusuk badan mengurungkan niat kami untuk mandi pagi.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi serta berganti pakaian yg lebih tebal, kami segera menuju ke lobby hotel. Di luar masih gelap, dan udara musim semi yang dingin segera menerpa setiap relung tubuh kami. Tidak lama berselang, mobil penjemput telah tiba.

Dari hotel kami dibawa ke suatu tempat, entah dimana lokasinya. Cukup jauh juga dan ditempuh dalam waktu 30 menit dari lokasi hotel kami menginap. Tibalah kami di sebuah tanah lapang dan terlihat balon udara yang dipanaskan.

Sang pilot menyapa kami dan memperkenalkan diri. Ia seorang warga negara Australia yang bekerja sebagai pilot balon udara. Setelah berkumpul semua, ia memberikan briefing bagaimana posisi kami ketika akan naik dan turun dari balon udara, serta apa saja yang harus diperhatikan selama berada didalam kantong balon udara.

Satu kantong memuat maksimal 20 orang saja. Satu persatu kami menaiki balon udara dan berpencar diposisi masing-masing. Tidak lama kemudian, balon udara kami mulai terbang, perlahan-lahan posisi kami semakin tinggi, hingga terlihat puluhan balon udara terbang diseantero Cappadocia. Menakjubkan!

Matahari semakin lama semakin terlihat begitu indah dari kejauhan. Pucuk-pucuk bukit kapur tampak seperti rumah hobbit di dalam film. Decak kagum puluhan orang segera terdengar dan bunyi kamera terdengar silih berganti untuk mengabadikan momen yang menakjubkan, bahkan mungkin tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Hampir 1 jam kami sudah mengelilingi Cappadocia. Lambat laun perkebunan anggur dan pohon zaitun sudah terlihat jelas. Matahari sudah hampir tinggi dan hawa dingin masih menerpa kami.

Ada dua mobil dibawah kami yang mengejar balon udara yang kami tumpangi. Ketika akan turun, para penumpang harus memegang tali yang di dalam keranjang dan semua aktifitas foto2 harus dihentikan. Ada perasaan khawatir ketika balon udara turun tanah, tetapi semua sirna karena operator balon udara memang sudah profesional.

Setelah balon udara berhasil ditambatkan dan para penumpang turun dengan selamat, kami disuguhkan champagne dan makanan kecil khas turki. Bagi yang tidak suka minum alkohol, disediakan juga minuman non alkohol. Setelah selesai makan dan minum, operator membagikan sertifikat balon udara.

Akhirnya kesampaian juga naik balon udara di Turki. Saya juga ingin naik balon terbang di atas gunung bromo atau lokasi menawan lainnya di Indonesia. Semoga bisa segera terwujud! (Wisata Turki)

Mampir Ke Pabrik Karpet Turki

Mampir Ke Pabrik Karpet Turki - Selain wisata religi dan alam, selama liburan di Turki traveler juga bisa mampir ke pabrik karpet. Selama di sana, traveler bisa melihat proses pembuatan karpet Turki yang kualitasnya oke punya.


Dalam tradisi Turki, apabila seorang keluarga ada yang menikah maka karpet adalah salah satu hadiah yang pas untuk pernikahan. Bahkan apabila ada seorang gadis yang ingin menikah, ia hanya memberikan kode kepada orangtuanya dengan minta dibelikan karpet.

Dengan cara itulah, kedua orangtuanya tahu bahwa anak gadisnya sudah siap untuk menikah. Karpet di Turki memang merupakan salah satu benda penting dalam tradisi keluarga di negara tersebut.

Kawasan Cappadocia terkenal sebagai penghasil karpet dan keramik kualitas unggulan. Di sini industri karpet dijadikan tempat wisata yang menarik. Para wisatawan di bawa masuk ke dalam tempat pembuatan karpet yang didesain begitu menarik.

Di dalamnya wisatawan bisa menyaksikan ibu-ibu sedang memintal benang dan bagaimana untaian benang yang ratusan dan bahkan ribuan bisa menjadi karpet yang indah. Satu karpet kecil bisa dibuat minimal 3 bulan hingga setahun lebih.


Semua yang hadir bisa melihat bagaimana kepompong dari ulat sutera direbus dan dipintal hingga menjadi benang sutera kualitas terbaik. Kemudian benang tersebut dibuat menjadi karpet. Tetapi, tidak semua karpet terbuat dari benang sutera, ada juga yang tersebut dari kapas atau wol.

Penjual menjelaskan perbedaan karpet buatan mesin dan karpet buatan tangan. Ada karpet yang 100% dari benang sutera atau campuran dari kapan atau wol. Untuk satu karpet kecil dari benang sutera dihargai USD 1500 (Rp 20,6 juta), sungguh harga yang fantastis.

Untuk karpet tua akan semakin mahal harganya. Semakin tua umur karpet tersebut dan semakin sering diinjak, maka benang-benang di dalam karpet tersebut semakin mengikat erat dan kuat. Jadi itulah sebabnya karpet tua menjadi sangat mahal di Turki selain karena nilai historisnya.


Pembeli tinggal memilih desain karpet yang diinginkan dan bisa dikirim langsung ke negara tujuan. Tanpa perlu repot-repot memikirkan pengirimannya.

Kalau diajak berkunjung ke toko karpet oleh biro perjalanan, apabila tidak ingin membeli jangan coba-coba menawar. Sebabnya, para sales akan mengejar hingga ke dalam bus.(Wisata Turki)

Kota Bawah Tanah di Cappadocia, Turki

Kota Bawah Tanah di Cappadocia, Turki - Cappadocia di Turki memang terkenal dengan kota bawah tanahnya yang unik. Dari gua-gua yang mengagumkan hingga gereja yang begitu indah bisa ditemukan di bawah tanah Cappadocia. Keren!



Menyusuri bentang alam turki memang tidak ada habisnya. Mulai dari pegunungan dan lembah hijau hingga perbukitan yang tandus dan panas, serta puncak gunung yang masih tertutupi oleh salju abadi di akhir musim semi.

Untuk berkunjung ke kota Cappadocia dibutuhkan perjalanan darat yang cukup jauh dan melelahkan dari Istanbul, Turki. Transportasi yang bisa digunakan mulai dari pesawat terbang, kereta api hingga bus serta rental mobil. Jalanan yang mulus di seluruh kota Turki patut diacungkan jempol.

Kali ini kami dibawa untuk berkunjung ke kota bawah tanah. Menurut sejarah kawasan Cappadocia dulunya merupakan gunung berapi. Akibat letusan dahsyat kawasan ini banyak dipenuhi oleh batuan basalt yang rapuh.

Gua-gua yang ada saat ini, sudah digunakan sejak abad 7-8 sebelum Masehi. Di masa pemerintahan Byzantium, penduduk mulai menggali gua-gua bawah tanah sebagai tempat perlindungan untuk menghindari serbuan tentara Romawi.

Para pendeta dan penduduk Kristen di Cappadocia banyak yang melarikan diri karena mengalami penindasan di zaman kaisar Romawi. Sehingga mereka banyak menggali rumah di bawah tanah sebagai tempat perlindungan.

Memasuki ruang bawah tanah harus melalui sebuah pintu kecil yang terbuat dari batuan basalt. Di dalamnya ada tangga yang akan membawa wisatawan ke dalam ruang tidur, ruang makan, dapur dan gudang penyimpanan makanan di musim dingin.

Tinggi bangunan rata-rata sekitar 1,7-2 meter dan bisa ditempati sampai 20 orang. Anehnya, ketika hawa panas di luar sangat menyengat, udara di dalam gua sangatlah nyaman.

Udara dingin segera menerpa masuk ke dalam ruangan, tetapi ketika di musim dingin tiba ruangan tersebut berubah menjadi hangat. Ternyata batuan basalt bisa menyerap panas dan menyimpan energi panas.

Kini, beragam ruangan bawah tanah tersebut dijadikan tempat wisata. Dan kawasan ini dijaga sebagai museum hidup. Hanya satu atau dua keluarga Kristen yang masih menempati ruang-ruang di gua bawah tanah tersebut.



Di luar gua, banyak penduduk lokal yang menjajakan boneka buatan tangan seharga 5 Lira Turki (Rp 23 ribu). Cocok untuk dijadikan oleh-oleh keluarga di Tanah Air.(Wisata Turki)

Fakta Unik Seputar Turki

Fakta Unik Tentang Turki - Turki memiliki banyak sisi menarik. Berada di Asia dan Eropa sekaligus. Di abad pertengahan berjaya dengan kekaisaran Usmaniyah yang menduduki sebagian Eropa. Inilah beberapa fakta yang mungkin belum Anda ketahui.

Hagia Sophia: Gereja jadi Mesjid
Mesjid paling terkenal di Istanbul Hagia Sophia asalnya adalah katedral dari zaman Byzantium di abad ke 6. Selama 900 tahun menjadi gereja terpenting dalam agama Kristen. Pada abad ke 15 Mehmet II merebut kota Konstantinopel yang kemudian menjadi Istanbul,. Ia mengubah gereja jadi mesjid dengan menambah 4 minaret dan air mancur. Sekarang Hagia Sophia menjadi museum.

Bazaar Istanbul yang Luar Biasa
Grand Bazar atau pasar besar di Istanbul mencatat rekor tersendiri. Di dalam Bazar tertutup ini terdapat 64 lorong, 4000 toko dan lebih dari 25.000 pekerja. Bazar di Istanbul merupakan daya tarik utama bagi wisatawan. Setiap tahun lebih dari 90 juta wisatawan singgah dan berbelanja di Bazar Istanbul.

Ankara Ibukota Turki
Banyak yang salah menduga bahwa Istanbul adalah ibukota Turki. Ankara yang ada di bagian Asia adalah ibukota Turki. Penetapan Ankara sebagai ibukota Republik Turki dilakukan tahun 1923 setelah perang kemerdekaan. Kota berpenduduk 5 juta orang ini memiliki sejarah panjang yang bisa dilacak hingga abad 10 sebelum Masehi.



Santa Claus Lahir di Turki
Figur terkenal Santa Claus atau Sinterklaas berasal dari Saint Nicholas yang dilahirkan di Patara tahun 270. Saat itu Patara masuk ke dalam Kekaisaran Romawi dan di zaman modern adalah wilayah kedaulatan Turki. Legenda menyebutkan Santa Claus adalah orang suci yang membantu rakyat miskin dan kelaparan di kawasan Myra hingga namanya dikenal sebagai Saint Nicholas dari Myra.


Bunga Tulip Asalnya Untuk Obat
Bunga Tulip yang kini terkenal jadi ciri khas Belanda, sebetulnya berasal dari Turki. Kata Tulip berasal dari Turban alias sorban dalam bahasa Turki. Warga Turki di kawasan Asia Tengah sudah membudayakan Tulip sejak abad 10 untuk bahan obat-obatan. Carolus Clausius direktur taman Botani Leiden yang mula mula pada 1590 membudidayakan bunga Tulip di Belanda untuk penelitian bahan obat-obatan.


Alfabet Turki Tanpa X,Q dan W
Alfabet Turki terdiri dari 29 huruf atau lebih banyak 3 huruf dari alfabet latin. Tapi dalam alfabet Turki tidak ada huruf X,Q dan W. Dan tahukah Anda kata terpanjang dalam bahasa Turki "Muvaffakiyetsizleştiriveremeyebileceklerimizdenmişsinizcesine" yang artinya: mereka yang menganggap dirinya tidak bisa berubah secara tiba-tiba menjadi orang yang gagal.


(Wisata Turki)

Tips Belanja di Grand Bazaar, Istanbul, Turki

Tips Belanja di Grand Bazaar, Istanbul, Turki - Belanja di grand bazaar jangan beli di toko yang letaknya di lorong utama, karena sewanya tokonya mahal jadi harga barang yang dijual juga otomatis mahal. Carilah toko yang tersembunyi dan masuklah agak ke dalam..."

Jalan-jalan atau liburan ke luar negeri buat saya tak lepas dari aktifitas shopping. Eitsss!! Bukan shopping barang-barang mewah seperti para pejabat yang sedang studi banding loh..


Saya juga bukan penggemar barang-barang branded, karena di mata saya barang-barang branded itu harganya di luar nalar alias nggak masuk akal. Jadi shopping ala saya ini hanya sekedar berburu barang-barang kecil seperti souvenir atau cendera mata khas negara setempat misalnya miniatur landmark, mug atau tempelan kulkas untuk dikoleksi.

Grand Bazaar, Turki

Sejak sebelum berangkat, saya sudah mendapat bisikan dari orang-orang di sekeliling saya untuk membeli kerudung khas Turki yang katanya indah terutama kalau dipakai para wanita Turki (tentunya.. hihihihi...). Selain kerudung atau jilbab, saya berniat untuk membeli selembar karpet handmade Turki yang terkenal keindahannya seantero dunia.

Grand bazaar atau Capalicarsi. Siapa yang tak mengenalnya.. Karena tempat ini sudah kondang sebagai surga belanja di Istanbul serta menjadi tempat wajib untuk dikunjungi selama di Turki. Tempat ini mirip dengan Khan el Khalili di Kairo, hanya saja Grand Bazaar lebih luas lagi tempatnya.

Soal umur, Khan el Khalili Kairo jauh lebih tua yaitu berdiri tahun 1382 daripada grand bazaar Istanbul yang baru berdiri pada tahun 1455. Dari tempat saya menginap, hanya sekitar 15 menit saja jalan kaki, kalau naik tram turun saja di Beyazid. Jadi selama berada di Istanbul lebih kurang 4 kali saya bolak balik ke grand bazaar itu hehehe...

Sore itu saya hanya bertiga ke Grand Bazaar (saya, suami dan anak sulung saya), sedangkan 2 anak lainnya memilih di hotel karena kecapekan. Memasuki pintu grand bazaar, tiba-tiba kami disapa oleh seorang laki-laki Turki.



"Mari lihat-lihat koleksi jaket kulit kami, mampirlah ke toko kami.."

Sehari sebelumnya kami sempat mampir ke sebuah toko di Sultanahmet yang menjual jaket dan tas kulit, kami menanyakan sebuah jaket kulit, harganya 500 TL atau setara hampir Rp. 3 jutaan. Mahal bangetttttt...

Dan suami memang udah berniat membelikan istri tercintanya ini sebuah jaket kulit.. halaaaahhh sok pede.

Jadi ketika ada yang menawari kami untuk melihat tokonya, kami pikir kenapa nggak? Lihat-lihat dulu, kalau harga cocok dan barang bagus ya dibeli.


Singkat cerita kami sudah berada di toko si pria tadi, tokonya agak ke dalam letaknya. Orangnya ramah dan suguhan segelas apple tea khas Turki menjadi salah satu trik marketing mereka.

Banyak sekali macamnya dan saya tertarik dengan 1 model jaket lalu suami menanyakan harganya, mereka menawarkan jaket itu dengan harga 600 TL, 3,5 jutaan rupiah!! Memang sih jaket kulit yang saya taksir itu terlihat sangat berkualitas, baik kulit dan jahitannya. Suami yang ahli dibidang tawar menawar mencoba menawarnya 200 TL. Syareef si empunya toko cuma nyengir mendengarnya hihihihi... masa harga 600 ditawar 200?

Sambil akting keluar toko, Syareef mencegah lalu menurunkan harganya jadi 400 TL. Suami tetap bergeming dengan harga 200 nya itu. Syareef menurunkan lagi harganya jadi 350 TL lalu suami menaikkan harga tawarnya menjadi 250 TL.

Dan taraaaaa..... si penjual melepasnya dengan harga 300 TL. Memang nggak murah tapi saya lihat sepadan lah dengan kualitasnya. Jadi dapat jaket kulit baru deh...

Petualangan berlanjut, saatnya berburu kerudung Turki dan beberapa souvenir untuk koleksi. Sebelum keluar dari tokonya, Syareef memberi sedikit tips belanja pada kami.

Kalau belanja di grand bazaar jangan beli di toko yang letaknya di lorong utama, karena sewanya tokonya mahal jadi harga barang yang dijual juga otomatis mahal. Carilah toko yang tersembunyi dan masuklah agak ke dalam. Masuk akal juga nih tipsnya.

Benar saja kata si Syareef, saat iseng kami tanyakan harga selembar jilbab di sebuah toko yang berada tidak jauh dari lorong utama memang cukup mahal yaitu 30 TL. Iseng juga kami tawar 10 TL, si penjual malah nyengir lalu cuek hehehe...

Kerudung Turki dengan kualitas sama dengan yang kami tawar di toko pertama tadi akhirnya kami dapatkan juga dengan harga 15 TL, lumayanlah.... walaupun harus "blusukan" masuk ke lorong-lorong grand bazaar. Untung saja nggak nyasar.

Berikutnya karpet Turki yang handmade, yang ini akhirnya saya gagal mendapatkannya karena memang mahal banget. Selembar karpet seukuran sajadah saja harganya 600 TL, ughhh... jadi susah nawarnya karena tidak sesuai ekspektasi. Akhirnya ya nggak jadi beli, bahkan nawarpun tidak! hehehe...

Tapi gara-gara kami bilang bahwa kami lupa bawa sajadah, pemilik toko karpet itu malah memberi kami selembar sajadah walaupun bukan handmade tapi sangat berkesan. Si pemilik toko itu bilang, kalau dia memang benar-benar ikhlas memberikan sajadahnya kepada kami.

Perburuan mencari souvenir dan pernak pernik khas Turki kami lakukan dengan menggunakan trik-trik sebelumnya yaitu ngeyel dalam hal menawar. Alhasil, harga yang kami dapatkan cukup memuaskan di hati.

Ini tips untuk belanja barang di Grand Bazaar, Istanbul :

  • Carilah toko yang tersembunyi, semakin jauh dari lorong utama harganya akan semakin murah atau semakin mudah menawarnya. 
  • Rajinlah membandingkan dengan toko sebelah. 
  • Jika sudah sreg dengan barangnya, tawarlah harga yang berikan penjual minimal separohnya. Ngeyel aja sama harga yang sudah kita pasang. Orang Turki nggak akan marah walaupun kita nawarnya kebangetan. Paling juga dia nyengir lalu kita dicuekin. 

Dan selamat menikmati petualangan belanja...........(Wisata Turki)

Edirne, Kemilau Kesultanan Ottoman Turki

Edirne, Kemilau Kesultanan Ottoman Turki - Nama kota ini baru kami dengar beberapa saat setelah kami merencanakan liburan ke Istanbul. Informasinya kami dapatkan di sebuah buku dan kota ini sebenarnya bukan sebuah destinasi wisata populer Turki untuk para traveller. Tapi kami menjadwalkan pergi ke kota ini karena berhubungan erat dengan sejarah dan hanya melakukan day trip atau perjalanan 1 hari tanpa menginap karena hanya berjarak 2,5 jam perjalanan dari Istanbul.


Edirne (dibaca : eh-deer-neh) adalah sebuah kota kecil yang terletak 260 km sebelah barat laut Istanbul. Berbatasan langsung dengan Yunani dan Bulgaria, hanya 7 km dari perbatasan Yunani dan 20 km dari perbatasan Bulgaria. Ada beberapa sebutan untuk kota ini, pada jaman kekaisaran Romawi kota ini bernama Adrianapolis, sebuah nama dari seorang Kaisar Romawi Hadrian. Orang-orang Inggris menyebutnya dengan Adrianople, orang Bulgaria menyebutnya Odrin, orang Macedonia dan Albania menyebut dengan Edrene dan orang Serbia menyebutnya Jedrene.

Sejak jaman Yunani kuno, Edirne menjadi kota paling diperebutkan karena letak geografisnya yang strategis. Kota ini merupakan jalur utama Eropa menuju Istanbul, Bosphorus dan Asia. Sehingga karena posisinya ini tak kurang dari 16 pertempuran besar pernah terjadi di Edirne.

Dan terhitung sejak tahun 1365 - 1453 kota Edirne menjadi ibukota Kekaisaran Ottoman sebelum jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki. Bahkan setelah Konstantinopel menjadi ibukota, Edirne masih menjadi kota terpenting dan menjadi semacam ibukota kedua bagi Kekaisaran Ottoman saat itu. Pada tahun 1700-1750, Edirne pernah menjadi kota terbesar keempat di Eropa, dengan populasi penduduk sekitar 350.000 orang.

Transportasi ke Edirne

Kunjungan ke luar kota Istanbul ini kami lakukan pada hari 3 liburan kami. Sebenarnya waktu itu kami berangkat agak kesiangan. Pukul 9.00 pagi baru keluar dari hotel. Untuk day trip disarankan berangkat sepagi mungkin agar leluasa berkeliling kota ketika berada di sana. Tapi anggota kami 5 orang termasuk 3 anak jadi ya untuk berangkat pagi-pagi sekali agak mengalami kesulitan, karena persiapannya yang cukup ribet. Ya sudahlah... daripada tidak berangkat sama sekali.



Ada 2 alternatif transportasi menuju Edirne, dengan kereta atau dengan bus. Menurut resepsionis hotel, kalau dengan kereta memakan waktu sekitar 4 jam dengan jadwal yang sudah ada yaitu 2 kali sehari, jam 8.30 pagi dan 3.50 sore berangkat dari stasiun Sirkeci jadi untuk day trip tentu tidak disarankan. Sedangkan dengan bus hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan interval keberangkatan setiap 30 menit. Pihak hotel menawari kami car rental, tapi tidak kami ambil karena mahal banget, 300 Euro sehari.

Kami memutuskan naik bus saja yang jelas lebih fleksibel. Dari Sultanahmet, kami naik taxi menuju Otogar, jangan menyebut bus station untuk terminal bus, sopir taxi pasti akan sedikit kebingungan (sopir taxi jarang bisa berbahasa Inggris). Cukup jauh jaraknya, memakan waktu sekitar 30 menit dan ongkos taxi yang harus kami bayar adalah 55 TL.

Karena waktu kami sudah mepet jadi untuk menghemat waktu kami memutuskan menggunakan taxi walaupun lumayan mahal. Jika naik Tramvay dan Metro cukup mengeluarkan ongkos total 4 TL saja per orang. Dari stasiun Sultanahmet naik T1 turun di interchange Zeitinburnu lalu naik M1 (jalur merah) ke arah Otogar. Atau dari Sultanahmet (T1) turun Aksarai lanjut dengan M1 ke Otogar.

Terminal bus di Istanbul cukup luas, karena melayani ke berbagai jurusan ke seluruh wilayah Turki termasuk di bagian Asia. Masing-masing jurusan dikelompokkan dengan nomor. Misalnya bus jurusan Edirne di terminal nomor 103-116, jurusan Cappadocia di terminal nomor 8 - 59 dan lain sebagainya. Sempat bingung waktu ditanya oleh sopir taxi, mau ke terminal nomor berapa? Akhirnya kami sembarang turun saja, lalu menanyakan pada seorang polisi terminal untuk bus jurusan Edirne.

Ada 2 perusahaan bus besar yang melayani rute Istanbul-Edirne yaitu Metro dan Ulusoy. Kebetulan kami memilih bus Metro kemudian segera membeli tiket. Waktu menunjukkan jam 9.45 dan bus berangkat jam 10.00, untunglah tidak terlalu lama menunggu. Harga tiket per orang adalah 25 TL tapi untuk anak-anak dibawah 12 tahun hanya dikenakan 18 TL saja. Kami langsung membeli tiket 2 way, kami pikir dapat diskon ternyata sama saja harganya hehehe.... rencananya kami kembali jam 17.00.

Sepanjang perjalanan, cuaca tidak cukup baik waktu itu, mendung disertai gerimis. Melewati jalan tol yang relatif sepi sehingga melancarkan perjalanan. Pemandangan lahan pertanian modern khas Eropa sungguh membuat perjalanan 2,5 jam itu tidak membosankan. Kata suami yang pernah berkunjung ke Perancis, di luar kota Perancis pemandangannya persis seperti ini. Uniknya selama perjalanan, saya yang kebetulan di sisi jendela hampir tidak pernah berpapasan dengan mobil pribadi mungkin hanya 2 kali saja saya menemuinya. Saya jadi berpikir, mungkin karena pelayanan angkutan umumnya sebagus ini atau karena harga bensin di Turki mahal ya...?

Sampai di Edirne Otogar waktu menunjukkan jam 12.20 lebih cepat 10 menit dari perkiraan. Suhu udara waktu itu cukup dingin ditambah dengan hujan kecil disertai angin. Edirne rupanya berada di dataran tinggi, tak heran suhu udaranya lebih dingin dari Istanbul. It's trully Europe... Kita di Eropa sekarang!! Teriak saya (dalam hati). Jika di Istanbul kita masih bisa melihat aroma Asia, tapi di Edirne kita benar-benar berada di Eropa. Dan sebenarnya selangkah lagi kalau punya visa Schengen bisa menyeberang ke Yunani atau Bulgaria.

Untuk menuju pusat kota, perusahaan bus besar seperti Metro dan Ulusoy menyediakan shuttlebus gratis. Sempat bingung mencari shuttlebus gratis itu, dan beberapa kali menanyakan pada petugas tapi nggak nyambung karena bahasa yang tidak kami mengerti. Untunglah ada petugas yang mengerti maksud kami, sehingga kami menunggu sekitar 10 menit sampai busnya datang.



Suasana kota tidak sepadat dan seramai Istanbul. Kontur tanahnya berbukit-bukit sama dengan Istanbul. Saya rasa mirip kota Malang di Jawa Timur deh.. hehehe.. (Wisata Turki)

Buang Air Kecil Seharga Rp 12 ribu di Turki

Buang Air Kecil Seharga Rp 12 ribu di Turki - Toilet umum di Indonesia sering kita temukan terutama ditempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, pom bensin, pasar dan sebagainya. Sedangkan tempat ibadah seperti masjid bisa dipastikan selain tempat berwudhu juga ada toiletnya. Dari toilet yang sangat bersih sampai toilet jorok, dari mulai yang gratis sampai yang harus bayar. Yang jelas kita nggak perlu bingung  jika tiba-tiba di tengah perjalanan kita ingin buang air kecil, karena toilet umum banyak bertebaran.



Waktu kami jalan-jalan ke Hongkong, mencari toilet umum susahnya minta ampun (apa karena nggak tau ya?) jadi kami sering sekali menyuruh anak-anak menahan buang air kecil. Apalagi waktu kami ke sana saat musim dingin. Bisa dibayangkan betapa seringnya anak-anak merengek karena kebelet pipis, lalu kami bertanya ke sana kemari menanyakan di mana toilet umum berada.

Di Istanbul saat ini masih masuk musim semi, suhu udara berkisar antara 12-20 derajat celcius. Hujan masih sering turun saat kami berada di sana Mei lalu. Dengan suhu udara seperti itu ditambah hujan yang sering turun, tubuh akan minim memproduksi keringat dan akibatnya jadi sering banget ke toilet untuk buang air kecil.

Masalah ini akan lebih sering terjadi pada anak-anak termasuk ketiga anak kami, karena mereka seringkali tidak bisa menahan untuk tidak lebih sering buang air kecil. Sebenarnya sih sering buang air kecil bukan sebuah masalah, daripada ditahan-tahan nanti jadi penyakit. Masalahnya kalau pas di jalan, lalu tiba-tiba ingin buang air kecil, maka ya harus segera cari toilet umum.

Memang sih nggak susah cari yang namanya toilet umum yang dalam bahasa Turki disebut tuvalet. Tapi untuk menggunakan toilet-toilet itu ternyata tidak gratis. Kalau di Indonesia mungkin toilet yang tidak gratis hanya beberapa tempat saja. Umumnya merupakan fasilitas yang disediakan untuk pengunjung terutama di pusat-pusat perbelanjaan atau di pom bensin.



Tapi di Istanbul, hampir semua toilet harus bayar alias nggak gratis tidak terkecuali di area masjid. Di lingkungan masjid yang gratis cuma wudhu saja, kalau pengen ke toilet ya harus bayar. Rata-rata sih bayar 1.50 TL tapi di beberapa tempat malah bayar 2 TL yang kalau dikurskan  hampir Rp. 12.000 mahal banget kan...  Bayangkan kalau sehari BAKnya sampai 10 kali. Makanya saya kerap berpesan sama anak-anak sebelum keluar hotel,"Hayoo... pipis dulu ya, di sini kalo pipis bayarnya mahal..." hehehe..

Soal tingginya living cost di Turki sudah kami dengar dari beberapa teman yang sudah pernah pergi ke sana. Harga makanan, transportasi dan barang-barang lain harganya cukup tinggi dibandingkan dengan Kairo terutama dengan Indonesia. Yah, rata-rata biaya hidup di daratan Eropa memang serba mahal begitu kata suami yang pernah ke Paris beberapa tahun lalu.

Dan begitu cintanya sama rupiah, pergi kemanapun otak saya otomatis mengkonversikan mata uangnya menjadi rupiah, jadi ya kelihatan mahalnya :)
(Wisata Turki)

Ayasofya, Saksi Jatuhnya Konstantinopel

Ayasofya, Saksi Jatuhnya Konstantinopel - Saya amat penasaran dengan bangunan ini sejak lama. Melihat beberapa gambarnya membuat saya bertanya-tanya sesungguhnya bangunan ini gereja atau masjid?? Rasa penasaran itu seakan terbayar ketika saya mengunjunginya Mei 2012 lalu. Ya, Hagia Sophia atau orang Turki menyebutnya Ayasofya adalah landmark Istanbul. Saya yang sebelumnya tidak tertarik membaca sejarah bangunan megah itu, menjadi sangat ingin mengetahuinya lebih jauh.



Ayasofya adalah sebuah bangunan penuh sejarah, menjadi saksi dari sekian banyak kisah. Kisah paling dramatis adalah saat Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani.

Ayasofya berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kebijaksanaan Suci. Digunakan sebagai gereja selama 916 tahun sejak dibangun tahun 537 dan beralih fungsi sebagai masjid selama 481 tahun. Dirancang oleh para ilmuwan Yunani yaitu Isidorus seorang Fisikawan dan Anthemius yang seorang ahli Matematika. Atas perintah Kaisar Justinian Bizantium bangunan gereja itu berdiri.

Kubah bangunan ini memiliki tinggi 55,6 meter dan dianggap sebagai lambang arsitektur Bizantium dan juga menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir 1000 tahun. Sebenarnya pada tahun 360, Kaisar Constantine pernah membangun sebuah bangunan besar bernama Megalo Ekklesia (the Great Church) di tempat Ayasofya berdiri saat ini, namun terbakar pada tahun 404, lalu baru pada tahun 537 dibangun AyaSofya.

Sejarah Berdirinya Constantinopel

Konstantinopel, merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Dalam sejarahnya, ibukota Romawi Timur sebelumnya adalah Nikomedia di Anatolia. Lalu sejak tahun 330 berpindah ke Byzantium dan akhirnya berganti nama menjadi Constantinopel.

Romawi Timur merupakan kekuatan terbesar ekonomi, budaya dan militer di Eropa. Wilayah kekuasaannya membentang dari Armenia (sebelah barat Turki) sampai ke Calabria di Italia Selatan juga sebagian Afrika termasuk Mesir. Kekaisaran Romawi terbagi menjadi barat dan timur pada sekitar tahun 395 setelah kematian Theodosius I yang merupakan kaisar yang memerintah seluruh Romawi.

Pembagian ini cukup penting karena di dasari oleh persamaan bahasa, di Romawi Barat penduduknya menggunakan bahasa Latin sedangkan Romawi Timur menggunakan bahasa Yunani. Tapi ternyata pemisahan ini menggerogoti persatuan kekaisaran Romawi saat itu.

Konstatinopel yang merupakan ibukota Romawi Timur merupakan wilayah strategis bagi jalur perdagangan bangsa-bangsa Eropa. Letaknya yang berada di jalur darat dari Eropa ke Asia serta jalur laut dari laut Hitam ke Laut Mediterania. Kota ini juga memiliki pelabuhan terbesar yang dijuluki sebagai Tanduk Emas karena bentuk semenanjung yang menyerupai tanduk.

Karena letak geografisnya yang strategis ini hampir selama abad pertengahan Konstatinopel menjadi kota terbesar dan termakmur di Eropa. Kota ini didirikan oleh Kaisar Konstantinus I pada tahun 330 (sebelumnya bernama Bizantium). Didisain untuk menjadi sebuah kota metropolis seperti kota Roma, fasilitas-fasilitas umum dibangun seperti alun-alun, jalan raya, saluran air, bahkan hipodromos (tempat pacuan kuda) yang menampung hingga 80.000 penonton dibangun di kota ini.

Jatuhnya Konstantinopel

Pada tahun 1450, ketika wilayah kekuasaan Turki Usmani semakin meluas di wilayah Balkan, posisi Romawi Timur hanya tersisa di Konstantinopel. Posisi yang tidak menguntungkan sebenarnya karena terjepit di Barat dan Timur, namun karena letak Konstantinopel yang strategis, maka Kaisar Constantine XI bersikeras mempertahankannya.

Ketika Sultan Mehmet II yang saat itu berusia 21 tahun naik tahta menggantikan ayahnya Sultan Beyazid I memberikan tawaran pada sang Kaisar Romawi untuk menyerahkan Konstatinopel. Sang Kaisar akan diberikan wilayah kekuasaan menjadi gubernur di Yunani dengan membawa seluruh harta kekayaannya serta dijamin keselamatannya asalkan mau meninggalkan Konstantinopel. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh sang Kaisar.

Penolakan itu serta merta mengakibatkan perang besar di kota ini pada tahun 1453. Diawali dengan pengepungan Konstantinopel pada 6 April 1453 di segala penjuru. Sang Sultan muda menggunakan meriam raksasa, senjata yang relatif baru pada masa itu untuk merobohkan benteng yang dibangun mengelilingi kota Istanbul.

Sebenarnya perang ini tidak seimbang, bayangkan saja tentara Konstantinopel saat itu hanya berjumlah sekitar 7.000 tentara sedangkan kekuatan pasukan Turki Usmani mencapai 100.000 tentara. Walaupun sudah dikerahkan penduduk Konstantinopel yang berjumlah 50.000 orang tetap saja tidak bisa mengimbangi kekuatan pasukan Turki waktu itu. Namun kuatnya benteng menjadi masalah tersendiri hingga menyebabkan Sultan Mehmet II merencanakan penyerbuan yang lebih masif.

Tanggal 28 Mei 1453, serangan besar-besaran dimulai sejak tengah malam. Warga kota semakin menyadari bahwa kekalahan sudah di depan mata. Lonceng-lonceng gereja dibunyikan, ribuan orang berkumpul di Ayasofya untuk melakukan misa perpisahan. Sebagian menyanyikan hymne suci, sebagian menangis dan sebagian yang lain saling bermaaf-maafan, rakyat Konstantinopel menyadari saat kematian akan segera tiba. Dalam prosesi malam itu, sang Kaisar juga berpidato di depan para panglima perangnya mengatakan bahwa dia akan ikut berjuang sampai titik darah penghabisan demi mempertahankan Konstantinopel.

Dini hari tanggal 29 Mei 1453, pertempuran besar terjadi sehingga menyebabkan benteng kota yang kokoh itu akhirnya mampu ditembus oleh pasukan Turki Usmani. Kota Konstantinopel jatuh di tangan Sultan muda Mehmed II.

Siang hari, Sultan muda itu memasuki kota yang telah luluh lantak lalu memerintahkan untuk mengakhiri pembunuhan. Sultan muda, penguasa baru kota Konstantinopel itu juga mengatakan pada penduduk kota, untuk beraktifitas seperti biasa seperti sebelum terjadi perang, juga beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Tidak ada pengrusakan bangunan apapun, termasuk gereja Ayasofya. Hanya saja Sultan Mehmed II memutuskan untuk merubah fungsi bangunan gereja itu menjadi sebuah masjid. Bangunan tidak diubah sedikitpun kecuali interiornya ditambah dengan mimbar untuk khotbah dan kaligrafi di sekeliling bangunan dan eksteriornya ditambah dengan 4 menara. Resmi dipakai sebagai masjid dan madrasa sejak tanggak 3 Juni 1453.

Ayasofya Saat Ini

Masuk ke dalam bangunan masjid yang sudah menjadi museum sejak tahun 1934 ini kita harus membayar tiket seharga 25 TL dan gratis untuk anak-anak usia 0 -12 tahun. Boleh membawa kamera, tapi tidak boleh membawa tripod. Benda ini harus dititipkan dibagian pemeriksaan, kita bisa mengambilnya lagi setelah keluar.



Ayasofya terdiri dari 2 lantai. Lantai dasar yang juga merupakan main hall yang dulu digunakan sebagai tempat ibadah, ornamen-ornamen gereja seperti gambar Yesus masih ada dalam bangunan ini berdampingan dengan kaligrafi Islam seperti lafadz Allah dan Muhammad serta beberapa tulisan kaligrafi lainnya seperti halnya dalam sebuah masjid. Uniknya, bangunan Ayasofya ini sudah nyaris menghadap ke arah kiblat, jadi tidak perlu lagi merubah tempat mihrab tempat imam hanya sedikit saja menggeser arahnya beberapa derajat.

Untuk menuju lantai 2, anda akan melewati lorong berukuran tinggi orang dewasa dan lebar sekitar 1,5 - 2 meter. Jangan khawatir capek untuk naik ke atas karena jalan menuju ke sana bukan berupa tangga tapi ramp yang landai. Di lantai 2, terdapat gallery. Nuansa gereja masih kental di sini, mozaik-mozaik kuno bergambar Bunda Maria dan Isa juga Kaisar Constantine dan istrinya bisa kita saksikan.

Dari lantai 2 ini kita juga bisa dengan leluasa menyaksikan kemegahan interior Ayasofya. Dari lantai inilah biasanya para fotografer mengambil gambar Ayasofya dari berbagai angle.

Yang jelas, dari Ayasofya saya bisa sedikit bisa mengambil gambaran bahwa Sultan Mehmed II itu adalah raja yang toleran. Walaupun sudah memenangkan peperangan namun beliau tidak serta merta menghancurkan dan memusnahkan bangunan peninggalan kerajaan sebelumnya yang non Islam termasuk gereja besar Ayasofya. Sejarah telah merekamnya....(Wisata Turki)

Menginap di Kawasan Sultanahmet, Istanbul, Turki

Menginap di Kawasan Sultanahmet, Istanbul, Turki - Kawasan Sultanahmet mungkin sudah tidak asing lagi bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke Istanbul, Turki. Kawasan ini adalah kawasan tua (old city). Di tempat inilah beberapa bangunan yang menjadi landmark kota Istanbul berdiri, seperti Masjid Sultanahmet (Masjid Biru), Haghia Sophia, Yerebaten Cistern, dan Istana Topkapi. Kawasan Sultanahmet ini dulu merupakan ibukota pemerintahan Romawi Timur sampai berpindah pada Kesultanan Ottoman Turki tahun 1453.



Tempat ini berada di dataran tinggi kota Istanbul, di sisi sebelah timur adalah Laut Marmara, sebelah utaranya adalah selat Bosphorus. Karena kontur tanah di kota Istanbul memang berbukit-bukit, maka kita akan dengan mudah melihat kota pemandangan Istanbul termasuk Istanbul di bagian Asia.

Tempat ini memang sangat strategis karena bisa melihat ke segala penjuru. Tak heran, raja Constantine XI waktu itu bersikukuh tidak mau menyerahkan Istanbul yang saat itu bernama Constantinopel pada Turki, walaupun posisinya sudah terjepit karena dikepung pasukan Turki dari arah Barat dan Timur. Kita masih bisa menyaksikan benteng-benteng peninggalan Romawi yang berada di sepanjang pantai. Benteng yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Saat kami mengunjungi Istanbul untuk berlibur minggu lalu, kami sengaja memilih menginap di kawasan Sultanahmet dibandingkan menginap di daerah Taksim. Hotel dan tempat penginapan memang paling banyak terdapat di 2 kawasan ini. Namun jika ingin menginap di hotel mewah berasitektur modern yang menjulang tinggi, kita tidak akan menemukannya di Sultanahmet. Hotel-hotel bintang 5 seperti Best Western dan Four Season tingginya hanya 4 lantai saja.

Awalnya, saya agak heran melihat bangunan hotel dan gedung lainnya di kawasan ini, karena hotel yang berada di Sultanahmet hanya berlantai tidak lebih dari 4. Kawasan ini juga padat dengan lebar jalan tidak lebih dari 5 meter, walaupun demikian tempat ini sangat tertata rapi.

Sepertinya kawasan Sultanahmet merupakan kawasan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah Turki. Maka dari itu, bangunan rumah dan hotel serta penginapan tingginya tidak boleh melebihi tinggi Blue Mosque dan Hagia Sophia. Tak heran, 2 bangunan itu terlihat dominan terutama jika kita sedang menyeberangi laut Marmara. Saya tidak bisa membayangkan jika hotel-hotel yang berdiri di sekitar 2 bangunan itu tidak dibatasi tingginya, mungkin Blue Mosque dan Hagia Sophia yang megah akan tenggelam ditelan bangunan hotel pencakar langit.



Jarak hotel tempat kami menginap hanya 200 meter saja dari bangunan-bangunan bersejarah tadi, jadi kami lebih sering melihat dan melewati Masjid Biru dan Hagia Sophia. Jarak ke pantai laut Marmara juga hanya sekitar 200 meter. Ke Grand Bazzar, kita hanya perlu sekitar 15 menit jalan kaki dari kawasan ini, kalau tidak suka jalan kaki, naik saja tram karena letak stasiun juga tidak jauh. Tarif menginap beragam, dari 50-an USD sampai 300 USD per malam.

Beberapa hostel juga ada di kawasan ini yang tentu saja bertarif lebih murah. Hotel tempat kami menginap sekelas bintang 4, tarifnya 130 USD per malam untuk triple room. Tapi di hotel ini, kami beberapa kali mendapat perlakuan istimewa. Pertama kali sampai di hotel sekitar jam 8.00 pagi waktu Turki, belum masuk waktu check in tapi resepsionis hotel mempersilahkan kami untuk sarapan di restoran hotel, gratis. Setelah itu yang kedua, kamar yang seharusnya triple room di adjust menjadi family room yang lebih luas tanpa biaya tambahan. Baik banget deh...



Bangunan hotel Acra, tempat kami menginap juga hanya berlantai 4,  2 lantai ke atas dan 2 lantai berada di basement. Kami juga baru sadar, kalau ternyata hotel tempat kami menginap berdiri di atas bekas reruntuhan bangunan istana Romawi. Sisa tembok yang runtuh sengaja dibiarkan dibagian restoran hotel. Di situ terdapat keterangan bahwa bekas bangunan itu dilindungi. Tempat besejarah sudah semestinya dilindungi ya...

Jangan khawatir soal makanan, di Sultanahmet banyak terdapat restoran lokal atau restoran cepat saji semacam Mc Donald atau King Burger, kafe tradisional dan modern, atau warung-warung kebab yang buka hingga tengah malam. Soal harga jangan segan memilih restoran, jika kantong tidak mau terkuras hehehe...

Baca Juga :

Pilih saja restoran yang memasang daftar harga jadi kita bisa sesuaikan dengan budget. Kalau kebab dengan roti atau pilav (nasi) harganya hanya sekitar 2,5 sampai 4 TL. Jika ingin makan yang menunya beragam, kunjungi saja yang namanya lokanta, mirip dengan warung prasmanan di Indonesia atau restoran Padang harganya sih tergantung pilihan lauk, tapi rata-rata sekitar 6 - 10 TL.

Menginap di daerah Taksim atau Sultanahmet masing-masing punya sensasi. Jika anda suka dengan suasana sejarah masa lalu maka Sultanahmet adalah pilihan tepat namun jika anda suka suasana modern, di Taksim mungkin lebih cocok karena Istiklal street yang kondang dengan tempat shopping berada di sana.

Di daerah Taksim juga dekat dengan istana Dolmabache dan Galata Tower. Transportasinya juga tidak sulit, naik saja tramvay yang hanya jauh dekat tarifnya hanya 2 TL. Tapi saran saya sih jalan kaki lebih baik, karena pedestrian di Istanbul sangat nyaman dan bersahabat sekalian bakar kalori kan?? hehe..

Berikut jarak kawasan Sultanahmet ke tempat-tempat populer di Istanbul

  • Sultanahmet - Grand Bazaar, Masjid Beyazid  1,5  km : 15 menit jalan kaki, naik tram 2 TL
  • Sultanahmet - Taksim, Istiklal street 5 km  :  naik taxi 15 TL atau  naik tram turun stasiun Karakoy lalu jalan kaki 15 menit,
  • Sultanahmet -  Ferryport (ke Asia side)  2,5  km : 30 menit jalan kaki menyusuri pantai Marmara, naik tram turun stasiun Sirkeci atau Karakoy, naik taxi 7 TL
  • Sultanahmet - Bandara 40 km : Taxi 50 -60 TL, Metro (M1)  & Tram (T1) 2 x 2 TL


Selamat menjelajah eksotisnya kota Istanbul, Turki (Wisata Turki)

Naik Metro Atau Tram di Istanbul, Turki

Naik Metro Atau Tram di Istanbul, Turki - Sebelumnya kami sama sekali belum mengenal seluk beluk kota ini kecuali dari buku dan peta. Ini pertama kalinya kami ke Istanbul. Pokoknya benar-benar hanya mengandalkan pengetahuan tentang arah mata angin saja. Walau awalnya juga celingukan hehehe..


Mengawali perjalanan ke Istanbul, kami sengaja memilih penerbangan dini hari dari Kairo hari Selasa, 15 Mei 2012. Bukan tanpa alasan, selain tiket lebih murah kami akan memiliki bonus waktu 1 hari di Istanbul. Karena sebenarnya ada beberapa pilihan waktu penerbangan dengan Turkish Airline selain dini hari yaitu siang dan sore hari.

Jika kami berangkat siang atau sore hari, waktu travelling akan terpotong perjalanan. Itung-itungannya memang harus sedikit ribet kalau mau acara travelling bisa efektif dan efisien.

Rencananya pesawat take off pukul 02.55 waktu Kairo. Ada sedikit masalah dengan waktu tidur anak-anak. Biasa sih kalau mau travelling anak-anak susah tidur (saking senengnya), padahal pagi-pagi setelah sampai Istanbul itenerary sudah disusun sedemikian rupa padatnya... yaelahhh style pejabat hehe.... Pokoknya jangan sampai mereka ngantuk besok paginya karena kurang tidur.

Sampai Istanbul jam 6.15 pagi, setelah urusan membeli Visa on Arrival (VOA) seharga 25 USD dan cek paspor selesai, sesuai rencana, kami tidak naik taxi ke hotel. Menurut keterangan teman yang pernah ke sana, selain tarifnya lebih mahal (dibandingkan Kairo dan Indonesia), sopir taxi di Istanbul agak sedikit "nakal" dan banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Mereka memanfaatkan ketidak tahuan kita (turis) untuk membuat tarif taxi jadi mahal dengan cara mengambil jalan memutar untuk sampai tujuan.. Buku yang saya baca juga menyebutkan hal yang sama, sehingga membuat kami semakin mantap untuk tidak naik taxi dari bandara ke hotel karena paranoid hehehe....

Pilihannya tentu saja naik angkutan massal atau umum. Seperti umumnya negara-negara maju, transportasi massal di Istanbul sudah sangat modern dibandingkan negara kita jadi rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, itu menurut yang saya baca juga. Saya pikir, daripada nyasar kemana-mana lebih aman ya naik angkutan umum ini.

Ada beberapa jenis, tapi yang paling populer untuk turis adalah Metro dan Tram karena 2 jenis angkutan ini melewati tempat-tempat wisata menarik di seputar kota Istanbul, sedangkan bis kota hanya melewati jalan-jalan utama saja. Karena kebetulan kami akan menginap di kawasan Sultanahmet maka naik metro adalah pilihan yang tepat.



Dari bandara, tidak perlu bingung mencari stasiun metro, petunjuknya sudah sangat jelas. Letaknya di basement dan hanya 5 menit jalan kaki setelah pintu keluar bandara. Cara pembayarannya dengan menggunakan token seharga 2 TL (Turkish Lira) yang bisa kita beli di mesin-mesin Jetonmatik di depan stasiun. Tarif Metro atau tram adalah flat, artinya jauh dekat sama ongkosnya. Mesin ini menerima uang kertas pecahan 5, 10 dan 20 TL selain uang koin. Kembalian akan keluar bersama token.


Untuk menuju kawasan Sultanahmet, kami naik metro jurusan Kabatas di jalur merah (M1), lalu turun di interchange Zeytinburnu bertukar dengan tram di jalur biru tua (T1). Saya pikir token masih berlaku saat berpindah jalur ke T1, tapi ternyata kami harus beli token lagi. Karena biasanya kalau di Kairo, Singapura atau Kualalumpur jika pindah jalur tidak lagi membeli tiket asal tidak keluar dari stasiun.

Jadi untuk kami berlima, total ongkos yang kami keluarkan menuju hotel hanya 20 TL bandingkan dengan taxi dari bandara ke Sultanahmet yang berdasarkan keterangan di buku bisa mencapai 50 TL (kalau sopirnya nggak "nakal").

Dalam perjalanan, di atas metro kami terkejut dengan seseorang yang menyapa kami dengan sapaan dengan bahasa jawa. Oh, ternyata seorang bapak yang juga baru pertama kali ke Istanbul, Pak Bambang namanya. Satu arah dengan kami, tapi tempat menginapnya sedikit lebih jauh dari tempat kami. Beliau bilang karena belum mengenal seluk beluk istanbul, maka dia memutuskan naik Metro yang rutenya sudah jelas. Daripada nyasar atau dikibulin sopir taxi katanya hehehe...

Jalur M1, tidak terlalu penuh tapi begitu pindah jalur T1 (tram) kami harus rela berdesakan bersama 2 koper bawaan kami. Jika jalur Metro punya jalur sendiri, maka tram berbagi dengan kendaraan lainnya seperti mobil, motor bahkan pejalan kaki. Maka ketika ada kendaraan atau orang yang melintas, tram akan mengurangi kecepatannya.

Setelah sepanjang 15 stasiun pemberhentian tram kami berdiri, akhirnya sampai juga di Sultanahmet sedangkan pak Bambang masih harus tetap melanjutkan perjalanannya ke stasiun Karakoy. Turun dari tram, pemandangan Blue Mosque yang menjadi landmark-nya Istanbul sudah tersaji di depan mata. Insting memotret tentu saja langsung bereaksi, walaupun mata sedikit berat karena kurang tidur.  Tidak tanggung-tanggung saya bawa 2 kamera loh hehe...  

Rencananya setelah kami menitipkan koper, kami akan berkeliling saja disekitar Blue Mosque dan Haghia Sophia yang letaknya berhadapan. Waktu Check in hotel jam 12.00 sedangkan kami sampai di Sultanahmet sekitar jam 8.00 jadi ya lumayan sih nunggunya. Untung saja pemandangannya menarik jadi mata yang ngantuk bisa sedikit segar. Tidak susah mencari hotel tempat kami akan menginap, walaupun sedikit salah jalan tapi tidak terlalu jauh nyasarnya hehe..

Terbukti kan, nggak nyasar kalau naik Metro dan tram di Istanbul. Walaupun baru pertamakali dan belum mengenal seluk beluk kota. Saya jadi berpikir, kenapa Indonesia belum bisa membuat transportasi massal yang nyaman dan aman seperti ini ya??

Catatan :
1 TL = Rp. 5.123 (Tahun 2015)

(Wisata Turki)

Istanbul, Kota Seribu Masjid di Eropa

Istanbul, Kota Seribu Masjid di Eropa - Jika Kairo mendapat julukan negeri seribu menara, mungkinkah Istanbul berhak menyandang gelar yang sama? Karena hampir sama dengan di Kairo, di seluruh daratan kota Istanbul dihiasi masjid-masjid berasitektur indah. Bentuknya juga nyaris mirip satu sama lain, memiliki kubah besar dan beberapa kubah kecil dan tentu yang menjadi ciri khasnya adalah bentuk menaranya yang lancip. Mengingatkan saya pada Masjid Muhammad Ali Pasha, Citadel Kairo. Kontur tanah yang berbukit-bukit, semakin menonjolkan bangunan masjid yang dalam bahasa Turki disebut camii.

Dari sekian banyak masjid-masjid itu, saya hanya sempat mampir di 2 (dua)  buah masjid di Istanbul dan sebuah masjid di Edirne untuk melihat keindahan interiornya tapi beberapa lainnya hanya bisa menikmati keindahannya dari luar karena keterbatasan waktu. Suasana religius lebih terasa ketika masuk waktu sholat, suara adzan masjid satu dengan yang lain akan saling bersahut-sahutan. Saya bahkan hampir tak percaya bahwa saya sedang berada di daratan Eropa.

Berikut ini beberapa masjid indah yang sempat saya kunjungi dan saya abadikan dalam jepretan kamera saya.

Masjid Sultan Ahmed (The Blue Mosque) - Istanbul

5 hari saya berada di Istanbul, rasanya tidak pernah saya tidak melewati Masjid Sultan Ahmed ini, dan hampir tak pernah pula saya tidak menjepretkan kamera saya pada masjid indah yang dijuluki The Blu Mosque tersebut. Pagi, siang, sore bahkan malam hari foto masjid biru terekam dalam memory card kamera saya. Kami memang menginap di belakang masjid ini, hanya sekitar 200-an meter saja, jadi pergi kemanapun kami pasti melewati 2 bangunan megah di kota tua Sultanahmet, Blue Mosque dan Ayasofya.


Masjid Sultan Ahmed dibangun pada tahun 1609-1617 pada masa pemerintahan Sultan Ahmet I yang merupakan cucu Sultan Mehmed II. Arsitektur masjid ini merupakan puncak dari karya arsitektur pada masa kesultanan Turki Usmani, mengadopsi beberapa elemen dari Hagia Sophia yang merupakan bangunan peninggalan Byzantium dan memadukannya dengan arsitektur tradisional Islam. Memiliki 8 kubah kecil dan 1 kubah utama serta 6 menara. Arsiteknya adalah Mehmet Agha murid dari arsitek Mimar Sinan.

Julukan Blue Mosque untuk Masjid Sultan Ahmed disebabkan karena interior ruangannya yang kebiruan. Menggunakan 21.043 keping keramik bernuansa biru dan hijau yang ditangkan dari Iznik, sebuah kota kecil penghasil keramik terbaik di Bursa untuk dekorasi ruangan dalam masjid. Hampir seluruh ruangan yang luasnya 51 m x 53 m dihiasi dengan keramik termasuk pilar dan langit-langit yang tingginya 5 meter. Ada kurang lebih 260 jendela kaca patri dari Venesia yang juga melengkapi keindahan interior masjid Biru. Rasanya tak pernah bosan berada dalam masjid ini.

Yang unik, saat menjelang maghrib di atas kubah masjid berterbangan burung-burung berwarna putih dan akan semakin banyak saat malam hari. Mungkin sinar lampu menarik perhatian para burung itu. Para pemburu foto juga akan semakin banyak pada malam hari karena lighting akan semakin menonjolkan bentuk arsitektur bangunan masjid biru. Mereka mengambil posisinya masing-masing untuk mendapatkan angle paling menawan.

Masjid Beyazid, Istanbul

Letaknya hanya 50 meter dari grand bazaar, dan stasiun tram Beyazid. Berhadapan langsung dengan Istanbul University. Arsitekturnya tidak seperti Blue Mosque yang terkesan rumit, disain luarnya terlihat sangat simple. Usianya 100 tahun lebih tua dari Masjid Sultan Ahmed, dibangun pada masa Sultan Beyazid II tahun 1501-1506 dan merupakan masjid kedua terbesar kekaisaran setelah penaklukan Konstantinopel.


Kubahnya pernah direnovasi pada tahun 1573-1574, rusak karena gempa bumi tahun 1509. Interiornya tak kalah indah dengan Masjid Sultan Ahmed, walaupun tak semewah masjid Biru itu. Langit-langit yang tinggi membuat ruangan di dalam masjid terasa sangat sejuk tanpa pendingin ruangan ataupun kipas angin.

Pintu keluar dari tempat sholat perempuan berbatasan langsung dengan Sahaflar Carsisi (Bursa Buku). Dan di halaman depan masjid terdapat pasar barang bekas yang cukup ramai saat sore hari. Suasana di sekitar masjid relatif ramai karena dekat dengan pusat aktifitas masyarakat dan lumayan banyak juga jama'ahnya. Kami sempat sholat dzuhur di masjid ini.

Masjid Sulaymaniye, Istanbul

Sebenarnya jarak masjid Sulaymaniye dengan masjid Beyazid bisa ditempuh dengan 10-15 menit jalan kaki. Tapi waktu itu sudah terlalu sore saya ke sana dan selanjutnya tidak sempat lagi mengunjunginya. Saya hanya bisa menikmati kemegahan masjid itu dari jauh, karena memang letakknya sangat menonjol jika di lihat dari Topkapi palace dan Galata Bridge.


Masjid berkubah besar ini dibangun pada tahun 1550 dan selesai pada tahun 1558 pada masa pemerintahan Sultan Sulayman, arsiteknya adalah Sinan Pasha. Arsitekturnya merupakan perpaduan dari arsitektur Romawi dan Islam. Bentuk kubahnya merupakan adopsi dari Dome of The Rock di Palestina. Pada tahun 1660, masjid Suleymaniye ini pernah terbakar, lalu direstorasi kembali pada masa Sultan Mehmed IV.

Yeni Camii (New Mosque), Istanbul

Letaknya berada di area pelabuhan ferry Eminonu yang menghubungkan Istanbul Eropa dengan Istanbul Asia dan dekat dengan Galata Bridge. Beberapa kali kami melewati masjid ini tanpa sempat masuk ke dalamnya. Saat malam, masjid ini akan bertambah indah karena lampu-lampu menonjolkan bentuk arsitekturnya. Seperti umumnya masjid di Istanbul, Yeni Camii ini memiliki beberapa kubah kecil dan 1 kubah besar serta 2 buah menara.


Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1597, pembangunannya memakan waktu lebih dari setengah abad. Dibangun atas perintah istri Sultan Murad III, Safiye Sultan. Arsiteknya adalah Davut Aga, salah seorang murid arsitek terkenal Turki Mimar Sinan. Namun Davut Aga meninggal dunia sebelum sempat menyelesaikan masjid ini, ini juga yang menjadi salah satu alasan lamanya pembangunan masjid selain masalah-masalah politik masa itu. Akhirnya masjid bisa diselesaikan pada tahun 1663 dan diresmikan tahun 1665.


Masjid Dolmabache

Jika kita naik tram jalur biru tua, lalu turun di stasiun terakhir Kabatas kita akan langsung melihat bangunan masjid yang berada di areal istana Dolmabache ini. Dibangun bersamaan dengan pembangunan Dolmabache Palace (Istana kesultanan Turki baru) antara tahun 1843 sampai 1856. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdulmecid I.


Arsitektur masjid ini sangat berbeda dengan masjid-masjid era Turki Usmani lainnya di Istanbul. Ukuran bangunannya relatif kecil, dan berbentuk geometris. dan gaya arsitekturnya sangat menonjolkan arsitektur Eropa, memiliki 2 menara dan 1 kubah. Arsiteknya adalah Karabet Balyan.

Satu masjid yang tidak kesampaian saya kunjungi dan membuat saya penasaran adalah masjid Karakoy, letaknya persis disebelah jembatan yang menghubungkan Istanbul Eropa dan Asia. Sebenarnya saya sudah berjalan ke arah yang benar, turun di stasiun T1 Kabatas, lalu berjalan menyusuri tepi selat Bosphorus.

Namun karena waktu itu malam sudah semakin larut dan saya tidak juga melihat menara masjid, saya pikir saya salah arah dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke arah Sultanahmet. Padahal dari stasiun Kabatas itu saya sudah berjalan kaki lebih dari 30 menit, lumayan pegel juga tapi rasa penasaran tidak terbayar. Hmmm... nyesel juga tidak bisa mengambil gambarnya. Tapi mungkin lain kali saya akan kembali....

*sumber sejarah : Istanbul the Cradle of Civilization & wikipedia (Wisata Turki)